Bacaan
TopikWasiat Ya'qub dan Identitas Keimanan (133-141)
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya."
Logical Fallacy
Forced Inclusivism dengan Syarat Tersembunyi: Mengklaim beriman kepada semua nabi terkesan inklusif, namun dalam praktik Islam, nabi-nabi sebelumnya hanya valid jika tidak bertentangan dengan versi Al-Quran — yang sering berbeda dari versi tradisi aslinya.
Contradiction
Kontradiksi Internal: Klaim bahwa Islam beriman kepada semua nabi bertentangan dengan dakwaan bahwa kitab-kitab mereka telah diselewengkan. Jika kitab mereka tidak bisa dipercaya, bagaimana Islam bisa 'beriman' kepada misi mereka?
