Bacaan
TopikPerubahan Kiblat dan Ujian Umat Islam (142-152)
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
Dan walaupun engkau (Muhammad) memberikan semua ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang zalim.
Logical Fallacy
False Dilemma + Closed Epistemology: Mengklaim bahwa Ahli Kitab tidak akan pernah mengikuti kiblat Muslim seberapa pun banyak bukti yang diberikan — memprediksi kegagalan dialogue sebelum terjadi, menutup kemungkinan persuasi rasional.
Moral Concern
Prasangka terhadap Ahli Kitab: Menyatakan bahwa Yahudi dan Kristen secara permanen tidak mau menerima Islam menciptakan prasangka yang menghalangi hubungan setara dan dialog yang jujur.
