Topik
Keadaan penghuni neraka dan surga (Ayat 106-108)
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi,407) kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
Kritik
11:107-108 Pengecualian "kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain)" dalam janji kekekalan baik surga maupun neraka menunjukkan ketidakkonsistenan logis. Jika nasib akhir tergantung kehendak yang bisa berubah, maka konsep "kekekalan" itu sendiri menjadi tidak bermakna.
Logical Fallacy
Argumentum ad Ignorantiam - Ayat 107-108 menyatakan kekal di neraka/surga "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki," menciptakan klaim yang tidak dapat difalsifikasi karena pengecualian yang tidak spesifik.
Moral Concern
Eternal Punishment - Ayat 106-107 menggambarkan penderitaan kekal ("selama ada langit dan bumi") untuk tindakan yang terbatas dalam waktu, menimbulkan pertanyaan tentang proporsionalitas hukuman. Diskriminasi Esensialis - Ayat 105-108 membagi manusia secara tajam menjadi "sengsara" dan "berbahagia" berdasarkan identitas religius mereka, bukan spektrum moralitas yang lebih kompleks. Divine Caprice - Ayat 107-108 menyatakan bahwa meskipun orang-orang dihukum atau diberi hadiah secara kekal, Allah masih dapat mengubah keputusan tersebut "jika Tuhanmu menghendaki," menunjukkan ketidakkonsistenan dalam keadilan ilahi.