An-Nahl (Lebah) Ayat 14

Topik

Laut sebagai sumber makanan dan perhiasan (Ayat 14)

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.

Kritik

16:14 Mempromosikan pandangan instrumental terhadap laut hanya sebagai sumber daya untuk manusia, mengabaikan nilai intrinsik ekosistem laut. Konsep "menundukkan" laut mencerminkan hubungan dominasi atas alam yang problematik dalam etika lingkungan kontemporer.

Logical Fallacy

Circular reasoning (Penalaran melingkar) - Ayat 3 menyatakan Allah "menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran", kemudian menggunakan ciptaan tersebut (ayat 10-16) sebagai bukti dari kebenaran penciptaan. Cherry picking (Pemilihan selektif) - Ayat 10-16 hanya menyoroti aspek-aspek positif dari alam (manfaat hewan, buah-buahan, laut), mengabaikan fenomena alam yang merusak seperti bencana alam yang mungkin bertentangan dengan gambaran Tuhan yang Maha Pengasih.