Topik
Bantahan orang musyrik: "Allah menghendaki kami menyembah selain-Nya" (Ayat 35)
وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
Dan orang musyrik berkata, "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya." Demikianlah yang diperbuat oleh orang sebelum mereka. Bukankah kewajiban para rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.
Kritik
16:35 Menampilkan argumen determinisme teologis yang valid dari kaum musyrik yang secara implisit mengakui bahwa kehendak Allah menentukan segala tindakan manusia. Ayat ini gagal menyelesaikan paradoks: jika Allah berkuasa mutlak, mengapa menyalahkan manusia atas perilaku yang tidak bisa mereka hindari?
Logical Fallacy
Paradoks determinisme - Ayat 35-37 menampilkan kontradiksi logis dimana kaum musyrik berkata "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia", namun kemudian ayat 37 menyatakan Allah "tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya".
Moral Concern
Paradoks tanggung jawab moral - Ayat 33-37 mengandung kontradiksi dimana manusia disalahkan atas tindakan mereka ("menzalimi diri mereka sendiri") namun di saat yang sama dinyatakan bahwa Allah yang menentukan siapa yang "diberi petunjuk" dan siapa yang "tetap dalam kesesatan". Masalah kehendak bebas - Ayat 35 menunjukkan orang musyrik berdalih bahwa tindakan mereka adalah kehendak Allah, namun ayat 36 menyalahkan mereka yang "tetap dalam kesesatan", menciptakan ketegangan antara predestinasi dan tanggung jawab moral individu.