An-Nahl (Lebah) Ayat 75

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun berkaitan dengan seorang pria dari Suku Quraisy yang ge-mar berderma, sedangkan budaknya selalu saja melarang tuannya itu ber-buat demikian.

Topik

Perbandingan antara hamba sahaya dan yang diberi rizki (Ayat 75-76)

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُونَ ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya di bawah kekuasaan orang lain, yang tak berdaya untuk berbuat sesuatu dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik, lalu dia menginfakkan sebagian rezeki itu secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Samakah mereka itu? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.458)

Kritik

16:75-76 Menggunakan perumpamaan yang sangat problematik dengan menggambarkan orang dengan disabilitas ("bisu", "tidak dapat berbuat sesuatu") sebagai metafora untuk ketidakberdayaan dan kesia-siaan. Memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap kelompok rentan dengan menyamakan disabilitas dengan ketidakmampuan berkontribusi secara sosial.

Logical Fallacy

False equivalence (Kesetaraan palsu) - Ayat 75-76 menggunakan perumpamaan tentang hamba sahaya yang tidak berdaya dibandingkan dengan orang yang diberi rezeki, untuk menyamakan relasi manusia-berhala dengan manusia-Allah, namun perbandingan ini tidak setara secara logis.

Moral Concern

Ambivalensi terhadap perbudakan - Ayat 71 dan 75 menggunakan "hamba sahaya" dalam perumpamaan tanpa mengkritik institusi perbudakan, bahkan menggunakan status sosial ini untuk ilustrasi teologis.