Topik
Ibrahim sebagai umat yang taat (Ayat 120-123)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan ḥanīf.467) Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah),
Kritik
16:120-123 Menampilkan revisionisme historis dengan mengklaim Ibrahim sebagai pengikut monoteisme murni "hanif" dan menghubungkannya dengan Islam, mengabaikan fakta bahwa tradisi Yahudi dan Kristen telah mengklaim Ibrahim jauh sebelum Islam. Klaim "Allah telah memilihnya" menciptakan narasi apropriatif yang menafikan klaim tradisi lain terhadap figur yang sama.
Logical Fallacy
Anachronistic fallacy (Kesalahan anakronistik) - Ayat 120-123 menyebut Ibrahim sebagai contoh yang "lurus" dan bukan "musyrik", menggunakan konsep teologis yang dikembangkan jauh setelah masa Ibrahim untuk menilai figur historis.