Orang-Orang Curang, terdiri dari 36 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-86 setelah Al-'Ankabut sebelum Al-Anfal.
Manual pedagang yang ngaku firman tuhan.
Obsesi pasar lokal, bukan pesan universal:
Surah ini fokus banget sama kecurangan timbangan dan takaran, persis kayak keluhan pedagang yang kesal sama praktik curang di pasar. Kalau ini wahyu universal dari Tuhan, kenapa cuma ngomong soal masalah dagang spesifik Makkah abad ke-7? Mestinya ada isu lebih fundamental kayak keadilan sosial atau etika universal, bukan cuma urusan jual-beli.
Plot melompat tanpa logika:
Tiba-tiba loncat dari urusan timbangan ke sijjin dan illiyyin tanpa penjelasan. Terus muncul konsep "kitab yang bertulis" dari mana aja. Transisi nggak masuk akal ini kayak kompilasi teks terpisah yang digabung paksa, bukan narasi koheren dari satu sumber.
Fantasi balas dendam primitif:
Bagian terakhir nggambar orang beriman bakal ketawa-ketiwi ngejek orang kafir dari kursi surga. Ini bukan keadilan ilahi, tapi schadenfreude (seneng liat orang lain menderita) yang mencerminkan mentalitas kesukuan Arab primitif yang pengen balas dendam sama rival bisnis.
Nyontek folklor lama:
Konsep sijjin dan catatan amal udah ada di tradisi Mesir kuno, Zoroaster, dan Yahudi jauh sebelum Islam. Naskah Laut Mati dan literatur apokaliptik Yahudi-Kristen udah punya ide serupa. Ini bukan wahyu orisinal, tapi daur ulang cerita yang udah beredar.
Kesimpulan:
Al-Mutaffifin mengekspos dirinya sebagai produk frustrasi pedagang lokal yang mengadopsi dan memodifikasi mitos-mitos regional untuk membenarkan dendam personal, bukan komunikasi ilahi universal tentang keadilan dan moralitas.
Ayat ini turun ketika Nabi pertama kali tiba di Madinah dan mendapati penduduknya adalah orang-orang yang paling buruk dalam hal mengurangi takaran dan timbangan perdagangan. Setelah ayat ancaman ini turun, penduduk Madinah akhirnya mulai berdagang dan menimbang dengan jujur.
(Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi)
Ayat di atas turun berkaitan dengan penduduk Madinah yang kala itu suka mencurangi timbangan dan takaran.
(Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)