Menampilkan semua ayat dari Al-Mutaffifin. Klik lafazh Arab untuk membuka detail ayat satu per satu.

Ayat 1

Ancaman bagi orang yang mengurangi timbangan atau takaran (1)

Asbabun Nuzul

Ayat di atas turun berkaitan dengan penduduk Madinah yang kala itusuka mencurangi timbangan dan takaran.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

Logical Fallacy

Argumentum ad baculum - Penggunaan ancaman sebagai teknik persuasi. Ayat 1 langsung membuka dengan ancaman "celakalah" untuk mendorong perilaku moral tertentu, bukan memberikan argumen rasional.

Moral Concern

Us vs. them mentality - Mentalitas oposisi biner. Seluruh teks memperkuat pemisahan tegas antara "orang-orang yang berbakti" dan "orang-orang yang berdosa", mendorong polarisasi sosial.

Ayat 2

Mereka mengambil hak penuh saat menerima, namun mengurangi saat memberi (2-3)

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,

Logical Fallacy

False dilemma - Menyajikan pilihan terbatas (biasanya dua) ketika sebenarnya ada lebih banyak opsi. Seluruh teks menghadirkan pandangan dualistik sederhana antara orang beriman yang jujur dan orang kafir yang curang.

Moral Concern

Moral reductionism - Penyederhanaan kompleksitas moral. Ayat 1-3 mereduksi moralitas menjadi tindakan spesifik (kecurangan dalam perdagangan) tanpa mengakui spektrum perilaku etis yang lebih luas.

Ayat 3

Mereka mengambil hak penuh saat menerima, namun mengurangi saat memberi (2-3)

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.

Moral Concern

Moral reductionism - Penyederhanaan kompleksitas moral. Ayat 1-3 mereduksi moralitas menjadi tindakan spesifik (kecurangan dalam perdagangan) tanpa mengakui spektrum perilaku etis yang lebih luas.

Ayat 7

Catatan amal orang-orang jahat berada dalam Sijjin (7)

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjīn.900)

Moral Concern

Collective punishment - Generalisasi dalam penghakiman. Ayat 7-10 menyamakan semua "orang yang durhaka" tanpa mempertimbangkan variasi dalam tingkat pelanggaran atau konteks individual.

Ayat 8

Sijjin dijelaskan sebagai kitab yang tertulis (8-9)

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ

Dan tahukah engkau apakah Sijjīn itu?

Moral Concern

Collective punishment - Generalisasi dalam penghakiman. Ayat 7-10 menyamakan semua "orang yang durhaka" tanpa mempertimbangkan variasi dalam tingkat pelanggaran atau konteks individual.

Ayat 9

Sijjin dijelaskan sebagai kitab yang tertulis (8-9)

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

(Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal).

Moral Concern

Collective punishment - Generalisasi dalam penghakiman. Ayat 7-10 menyamakan semua "orang yang durhaka" tanpa mempertimbangkan variasi dalam tingkat pelanggaran atau konteks individual.

Ayat 10

Peringatan keras bagi para pendusta hari pembalasan (10-11)

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan!

Moral Concern

Collective punishment - Generalisasi dalam penghakiman. Ayat 7-10 menyamakan semua "orang yang durhaka" tanpa mempertimbangkan variasi dalam tingkat pelanggaran atau konteks individual.

Ayat 11

Peringatan keras bagi para pendusta hari pembalasan (10-11)

الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

(yaitu) orang-orang yang mendustakannya (hari pembalasan).

Logical Fallacy

Circular reasoning - Penalaran melingkar. Ayat 11-12 mendefinisikan orang yang mendustakan sebagai "setiap orang yang melampaui batas dan berdosa", sehingga menciptakan argumen melingkar di mana ketidakpercayaan dianggap sebagai bukti dari sifat berdosa.

Ayat 12

Hanya para pelanggar dan pendosa yang mendustakan hari pembalasan (12)

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

Dan tidak ada yang mendustakannya (hari pembalasan) kecuali setiap orang yang melampaui batas dan berdosa,

Logical Fallacy

Circular reasoning - Penalaran melingkar. Ayat 11-12 mendefinisikan orang yang mendustakan sebagai "setiap orang yang melampaui batas dan berdosa", sehingga menciptakan argumen melingkar di mana ketidakpercayaan dianggap sebagai bukti dari sifat berdosa.

Ayat 13

Mereka menganggap ayat-ayat Al-Qur'an hanya dongeng masa lalu (13)

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, "Itu adalah dongeng orang-orang dahulu."

Logical Fallacy

Argumentum ad hominem - Menyerang karakter orang, bukan argumennya. Ayat 12-13 mengaitkan penolakan terhadap doktrin dengan karakter moral yang buruk, tanpa membahas substansi keberatan.

Moral Concern

Epistemic closure - Menutup ruang dialog. Ayat 13-14 menggambarkan skeptisisme atau pertanyaan kritis ("dongeng orang-orang dahulu") sebagai indikasi kerusakan moral, sehingga menghambat penyelidikan intelektual.

Ayat 14

Hati mereka telah tertutup dosa-dosa yang mereka lakukan (14)

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.

Logical Fallacy

Post hoc ergo propter hoc - Korelasi yang salah diartikan sebagai sebab-akibat. Ayat 14 menyimpulkan bahwa perbuatan mereka "telah menutupi hati mereka", mengimplikasikan hubungan kausal yang belum tentu terbukti.

Moral Concern

Epistemic closure - Menutup ruang dialog. Ayat 13-14 menggambarkan skeptisisme atau pertanyaan kritis ("dongeng orang-orang dahulu") sebagai indikasi kerusakan moral, sehingga menghambat penyelidikan intelektual.

Ayat 15

Mereka terhalang dari rahmat Allah dan akan dibakar dalam neraka (15-17)

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak!901) Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.

Moral Concern

Shaming as social control - Penggunaan rasa malu dan alienasi sebagai mekanisme kontrol sosial. Ayat 15 menyebutkan bahwa pelanggar akan "terhalang dari melihat Tuhannya", menggunakan pengucilan spiritual sebagai bentuk hukuman.

Ayat 16

Mereka terhalang dari rahmat Allah dan akan dibakar dalam neraka (15-17)

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ

Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.

Moral Concern

Justice vs. mercy imbalance - Ketidakseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Teks menekankan pada hukuman berat (ayat 16-17) tanpa menyebutkan kemungkinan rehabilitasi atau pengampunan.

Ayat 21

Orang-orang baik menikmati kenikmatan surga di atas dipan-dipan (21-22)

يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).

Logical Fallacy

Argumentum ad populum - Argumen berdasarkan popularitas. Ayat 21 menggunakan kesaksian "malaikat-malaikat yang didekatkan" sebagai bukti validitas, mengandalkan otoritas populer daripada bukti objektif.

Ayat 22

Orang-orang baik menikmati kenikmatan surga di atas dipan-dipan (21-22)

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan,

Logical Fallacy

Appeal to reward - Argumen berdasarkan imbalan. Ayat 22-28 mendeskripsikan hadiah surgawi secara detail untuk mendorong kepatuhan, tanpa memberikan pembuktian logis untuk premis dasar.

Moral Concern

Hedonistic paradise - Deskripsi surga yang materialistik. Ayat 22-28 melukiskan surga terutama dalam bentuk kenikmatan fisik (dipan, minuman, kenyamanan), yang dapat dianggap sebagai pendekatan hedonis terhadap moralitas.

Ayat 23

Wajah mereka berseri-seri menunjukkan kebahagiaan (23-24)

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan.

Logical Fallacy

Appeal to reward - Argumen berdasarkan imbalan. Ayat 22-28 mendeskripsikan hadiah surgawi secara detail untuk mendorong kepatuhan, tanpa memberikan pembuktian logis untuk premis dasar.

Moral Concern

Hedonistic paradise - Deskripsi surga yang materialistik. Ayat 22-28 melukiskan surga terutama dalam bentuk kenikmatan fisik (dipan, minuman, kenyamanan), yang dapat dianggap sebagai pendekatan hedonis terhadap moralitas.

Ayat 24

Wajah mereka berseri-seri menunjukkan kebahagiaan (23-24)

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.

Logical Fallacy

Appeal to reward - Argumen berdasarkan imbalan. Ayat 22-28 mendeskripsikan hadiah surgawi secara detail untuk mendorong kepatuhan, tanpa memberikan pembuktian logis untuk premis dasar.

Moral Concern

Hedonistic paradise - Deskripsi surga yang materialistik. Ayat 22-28 melukiskan surga terutama dalam bentuk kenikmatan fisik (dipan, minuman, kenyamanan), yang dapat dianggap sebagai pendekatan hedonis terhadap moralitas.

Ayat 25

Mereka akan mendapat minuman murni yang bermeterai misik (25-26)

يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ

Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih dilak (disegel).

Logical Fallacy

Appeal to reward - Argumen berdasarkan imbalan. Ayat 22-28 mendeskripsikan hadiah surgawi secara detail untuk mendorong kepatuhan, tanpa memberikan pembuktian logis untuk premis dasar.

Moral Concern

Hedonistic paradise - Deskripsi surga yang materialistik. Ayat 22-28 melukiskan surga terutama dalam bentuk kenikmatan fisik (dipan, minuman, kenyamanan), yang dapat dianggap sebagai pendekatan hedonis terhadap moralitas.

Ayat 26

Mereka akan mendapat minuman murni yang bermeterai misik (25-26)

خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Laknya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.

Logical Fallacy

Appeal to reward - Argumen berdasarkan imbalan. Ayat 22-28 mendeskripsikan hadiah surgawi secara detail untuk mendorong kepatuhan, tanpa memberikan pembuktian logis untuk premis dasar.

Moral Concern

Hedonistic paradise - Deskripsi surga yang materialistik. Ayat 22-28 melukiskan surga terutama dalam bentuk kenikmatan fisik (dipan, minuman, kenyamanan), yang dapat dianggap sebagai pendekatan hedonis terhadap moralitas.

Ayat 27

Campuran minuman itu berasal dari mata air Tasnim (27-28)

وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ

Dan campurannya dari tasnīm,

Logical Fallacy

Appeal to reward - Argumen berdasarkan imbalan. Ayat 22-28 mendeskripsikan hadiah surgawi secara detail untuk mendorong kepatuhan, tanpa memberikan pembuktian logis untuk premis dasar.

Moral Concern

Hedonistic paradise - Deskripsi surga yang materialistik. Ayat 22-28 melukiskan surga terutama dalam bentuk kenikmatan fisik (dipan, minuman, kenyamanan), yang dapat dianggap sebagai pendekatan hedonis terhadap moralitas.

Ayat 28

Campuran minuman itu berasal dari mata air Tasnim (27-28)

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ

(yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah).

Logical Fallacy

Appeal to reward - Argumen berdasarkan imbalan. Ayat 22-28 mendeskripsikan hadiah surgawi secara detail untuk mendorong kepatuhan, tanpa memberikan pembuktian logis untuk premis dasar.

Moral Concern

Hedonistic paradise - Deskripsi surga yang materialistik. Ayat 22-28 melukiskan surga terutama dalam bentuk kenikmatan fisik (dipan, minuman, kenyamanan), yang dapat dianggap sebagai pendekatan hedonis terhadap moralitas.

Ayat 29

Orang-orang berdosa dahulu menertawakan orang-orang beriman (29-30)

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa,adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman.

Logical Fallacy

Poisoning the well - Mendiskreditkan lawan sebelum mereka berbicara. Ayat 29-33 mengkarakterisasi "orang-orang yang berdosa" sebagai pengejek, sehingga mendiskreditkan kritik mereka sebelum dipertimbangkan.

Ayat 30

Orang-orang berdosa dahulu menertawakan orang-orang beriman (29-30)

وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya,

Logical Fallacy

Poisoning the well - Mendiskreditkan lawan sebelum mereka berbicara. Ayat 29-33 mengkarakterisasi "orang-orang yang berdosa" sebagai pengejek, sehingga mendiskreditkan kritik mereka sebelum dipertimbangkan.

Ayat 32

Mereka saling mengedipkan mata dan mengolok-olok orang beriman (31-32)

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, "Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,"

Logical Fallacy

Poisoning the well - Mendiskreditkan lawan sebelum mereka berbicara. Ayat 29-33 mengkarakterisasi "orang-orang yang berdosa" sebagai pengejek, sehingga mendiskreditkan kritik mereka sebelum dipertimbangkan.

Moral Concern

Competing moral narratives - Persaingan narasi moral. Ayat 32-33 mengakui bahwa orang-orang kafir menganggap orang-orang beriman "benar-benar orang-orang sesat", namun teks lebih condong melegitimasi satu pandangan moral tanpa eksplorasi dialog.

Ayat 33

Mereka menganggap orang beriman sesat padahal bukan pengawas mereka (33-34)

وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ

padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).

Logical Fallacy

Poisoning the well - Mendiskreditkan lawan sebelum mereka berbicara. Ayat 29-33 mengkarakterisasi "orang-orang yang berdosa" sebagai pengejek, sehingga mendiskreditkan kritik mereka sebelum dipertimbangkan.

Moral Concern

Competing moral narratives - Persaingan narasi moral. Ayat 32-33 mengakui bahwa orang-orang kafir menganggap orang-orang beriman "benar-benar orang-orang sesat", namun teks lebih condong melegitimasi satu pandangan moral tanpa eksplorasi dialog.

Ayat 34

Mereka menganggap orang beriman sesat padahal bukan pengawas mereka (33-34)

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir,

Logical Fallacy

False equivalence - Menyamakan hal-hal yang tidak setara. Ayat 34-36 menyiratkan bahwa menertawakan orang kafir setara dengan perilaku buruk orang kafir terhadap orang beriman, tanpa mempertimbangkan konteks etis yang berbeda.

Moral Concern

Retributive vs. restorative justice - Fokus pada pembalasan daripada pemulihan. Ayat 34-36 lebih menekankan pada pembalasan ("menertawakan orang-orang kafir") daripada konsep keadilan yang lebih restoratif.

Ayat 35

Pada hari pembalasan, orang-orang beriman akan menertawakan orang kafir (35-36)

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan.

Logical Fallacy

Tu quoque - Menjawab kritik dengan kritik balik. Ayat 34-36 menggambarkan pembalikan peran di mana orang beriman akan menertawakan orang kafir sebagai balasan, bukan menjawab substansi keberatan.

Moral Concern

Retributive vs. restorative justice - Fokus pada pembalasan daripada pemulihan. Ayat 34-36 lebih menekankan pada pembalasan ("menertawakan orang-orang kafir") daripada konsep keadilan yang lebih restoratif.

Ayat 36

Pada hari pembalasan, orang-orang beriman akan menertawakan orang kafir (35-36)

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka perbuat?

Logical Fallacy

Tu quoque - Menjawab kritik dengan kritik balik. Ayat 34-36 menggambarkan pembalikan peran di mana orang beriman akan menertawakan orang kafir sebagai balasan, bukan menjawab substansi keberatan.

Moral Concern

Moral schadenfreude - Kegembiraan atas penderitaan orang lain. Ayat 34-36 menggambarkan kepuasan orang beriman saat menyaksikan hukuman orang kafir, yang menimbulkan pertanyaan tentang empati dan belas kasih.