Topik
Pembangunan Masjid Dhirar untuk memecah belah (Ayat 107-110)
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Logical Fallacy
Ad Hominem - Ayat 107-110 menolak validitas sebuah masjid berdasarkan siapa yang membangunnya (orang munafik), bukan berdasarkan evaluasi objektif terhadap masjid itu sendiri. False Analogy - Ayat 109 membandingkan pembangunan masjid oleh orang munafik dengan "bangunan di tepi jurang yang runtuh," membuat perbandingan yang tidak proporsional untuk mendiskreditkan tindakan tersebut.