Topik
Larangan memintakan ampun bagi kaum musyrikin (Ayat 113-114)
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
Logical Fallacy
Argument from Authority - Ayat 113-115 menolak kemungkinan memohonkan ampunan bagi orang musyrik berdasarkan otoritas teks suci, tanpa memberikan alasan logis independen.
Moral Concern
Pemutus Ikatan Keluarga - Ayat 113-114 melarang memohonkan ampunan bahkan untuk kerabat yang musyrik, dan mencontohkan Ibrahim berlepas diri dari ayahnya, mendorong penolakan ikatan keluarga demi loyalitas agama.