Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun terkait Ka‘b bin Màlik dan dua temannya, Muràrah bin Rabì‘dan Hilàl bin Umayyah, yang tidak ikut dalam Perang Tabuk. Ketiganyadengan jujur mengutarakan alasan ketidakhadiran mereka pada perangitu, berbeda dari orang-orang munafik yang berdusta dan membuat-buat alasan. Kejujuran itulah yang justru menyebabkan Nabi dan kaum muslim memboikot mereka selama lima puluh hari, hingga Allah menerima tobat mereka yang disampaikan-Nya melalui ayat di atas. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
TopikMasjid Dhirar dan Jual Beli dengan Allah (Ayat 107-118)
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka,
Logical Fallacy
Moral Hazard dari Tobat Pemimpin: Nabi Muhammad sendiri perlu tobat atas tindakannya (memberi izin kepada mereka yang tidak mau berperang), namun tobat ini serta-merta diterima. Ini menciptakan pola di mana pemimpin agama selalu mendapat ampunan ilahi, mengurangi akuntabilitas.
Moral Concern
Tobat Pemimpin yang Menggiring Bencana: Narasi bahwa Allah mengampuni Muhammad setelah memberi izin yang salah menciptakan model di mana kesalahan pemimpin diselesaikan melalui tobat tanpa akuntabilitas nyata kepada mereka yang dirugikan oleh keputusan tersebut.
