At-Taubah (Pengampunan) Ayat 117

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun terkait Ka‘b bin Màlik dan dua temannya, Muràrah bin Rabì‘dan Hilàl bin Umayyah, yang tidak ikut dalam Perang Tabuk. Ketiganyadengan jujur mengutarakan alasan ketidakhadiran mereka pada perangitu, berbeda dari orang-orang munafik yang berdusta dan membuat-buat alasan. Kejujuran itulah yang justru menyebabkan Nabi dan kaum mus-lim memboikot mereka selama lima puluh hari, hingga Allah menerimatobat mereka yang disampaikan-Nya melalui ayat di atas.

Topik

Taubat Allah terhadap Nabi dan kaum Muhajirin dan Anshar (Ayat 117)

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka,

Kritik

9:117-118 - Narasi tentang "tiga orang yang ditinggalkan" dan deskripsi bahwa "bumi terasa sempit bagi mereka" menunjukkan penggunaan ostrakisme sosial sebagai mekanisme kontrol. Model dimana penerimaan kembali hanya mungkin setelah penderitaan psikologis ekstrem ("jiwa mereka pun telah terasa sempit") menciptakan dinamika abusif yang merusak secara psikologis dan bertentangan dengan prinsip martabat manusia dalam etika modern.