Al-Hajj (Haji) Ayat 65

Topik

Penundukan bumi, laut, dan langit (Ayat 65)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (manusia) apa yang ada di bumi, dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.

Kritik

22:65-66 Mengklaim bahwa "Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi" dan "menahan benda-benda langit agar tidak jatuh" mencerminkan pemahaman kosmologis primitif yang tidak sesuai dengan pengetahuan astronomi modern. Narasi antroposentris ini menunjukkan keterbatasan perspektif pra-sains. Pernyataan "manusia itu sangat kufur nikmat" mendiskreditkan skeptisisme intelektual sebagai "kekufuran", menciptakan hambatan psikologis terhadap penyelidikan kritis.

Logical Fallacy

Argumentum ad ignorantiam - Ayat 65 menggunakan fenomena alam yang belum sepenuhnya dipahami (pada masa itu) seperti "benda-benda langit tidak jatuh ke bumi" sebagai bukti adanya Allah, padahal ketidaktahuan bukan merupakan bukti.

Moral Concern

Antroposentrisme - Ayat 65 menggambarkan alam semesta sebagai diciptakan untuk melayani manusia ("menundukkan bagimu apa yang ada di bumi"), dapat mendorong eksploitasi lingkungan tanpa batas.