Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-103 setelah An-Nur sebelum Al-Munafiqun.
Surat ini adalah campuran antara ritual pagan yang diganti label dan propaganda politik untuk melegitimasi kekuasaan. Kalau dilihat secara kritis, ada beberapa masalah besar:
Ritual pagan yang di-rebrand sebagai ibadah suci:
Thawaf mengelilingi Ka'bah dan mencukur rambut adalah ritual Arab pra-Islam yang sudah ada jauh sebelumnya. Aneh kalau Tuhan yang universal hanya fokus pada satu bangunan batu di padang pasir Arab — ini pelestarian tradisi lokal dengan stempel ilahi, bukan perintah kosmis.
Legitimasi kekerasan yang sangat tepat waktu:
Izin berperang muncul tepat ketika Muhammad sedang membutuhkan dukungan militer. Janji pahala bagi yang "berhijrah dan berperang" adalah insentif ekspansi politik yang sangat jelas — bukan ajaran spiritual yang netral.
Kontradiksi internal:
Di satu sisi ada deskripsi perkembangan janin yang terasa terlalu spesifik untuk wahyu abad ke-7. Di sisi lain ada klaim bahwa Allah "menahan langit agar tidak jatuh" — ini pemahaman primitif tentang gravitasi, bukan pengetahuan yang melampaui zaman.
Sistem peringkat agama dan ancaman monopoli:
Islam ditempatkan di puncak hierarki agama, sementara yang menghalangi akses ke Masjidil Haram diancam hukuman — padahal tempat itu sebelumnya adalah pusat perdagangan terbuka untuk semua suku. Ini pengambilalihan ruang publik dengan otoritas agama.
Kesimpulan:
Al-Hajj mengekspos bagaimana ritual komersial Arab kuno diubah menjadi kewajiban suci untuk mengontrol massa dan melegitimasi ekspansi politik. Ini bukan wahyu ilahi — ini panduan bisnis dan perang yang dibungkus label religius.
Ayat ini turun memberikan izin pertama kali kepada umat Islam untuk berperang (berjihad). Hal ini terjadi setelah Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin terusir dari Makkah dengan penuh kezaliman.
Ayat ini turun mengenai orang-orang Arab Badui (dan seorang Yahudi) yang baru masuk Islam tetapi keimanannya sangat transaksional. Jika hidupnya makmur, sehat, dan ternaknya beranak, ia memuji Islam. Namun jika jatuh miskin, sakit, atau tertimpa musibah, ia mencela Islam dan murtad.
(Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi)
Ayat ini turun untuk menyindir orang yang hanya beribadah kepada Allah jika mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebaliknya, bila keinginannya tidak tercapai, ia pun menuding Islam sebagai penyebabnya.
(Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat ini turun berkenaan dengan enam orang pahlawan yang berduel di Perang Badar: Hamzah, Ubaidah, dan Ali bin Abi Thalib dari pihak Muslim, melawan Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin Utbah dari pihak musyrik. Ayat ini juga terkait perdebatan antara Ahli Kitab dan umat Islam tentang agama siapa yang lebih berhak atas Allah.
Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.
(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, "Tuhan kami ialah Allah." Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.
dan penduduk Madyan. Dan Musa (juga) telah didustakan, namun Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang kafir, kemudian Aku siksa mereka, maka betapa hebatnya siksaan-Ku.
Tetapi orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan maksud melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itulah penghuni-penghuni neraka Jahim.
Ayat ini turun mengenai peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW sedang membacakan Surah An-Najm dan sangat berharap kaumnya mendapat hidayah. Setan kemudian menyelipkan kata-kata pujian terhadap berhala ("Gharaniq" yang diharapkan syafaatnya) ke dalam lisan Nabi sehingga kaum musyrik ikut sujud kegirangan. Malaikat Jibril lalu turun menegur dan menghapus sisipan setan tersebut. Surah Al-Mu'minun 23:1-10 Ayat ini turun ketika ‘Umar bin Khattab mendengar suara dengungan seperti lebah di dekat wajah Nabi Muhammad SAW saat beliau menerima wahyu. Setelah menghadap kiblat dan berdoa agar Allah menambah nikmat dan kehormatan bagi umatnya, Nabi mengabarkan bahwa 10 ayat ini diturunkan, dan siapa pun yang mengamalkannya akan masuk surga.