Topik
Ketidakmampuan berhala menciptakan seekor lalat (Ayat 73)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang di sembah.
Kritik
22:73-74 Argumentasi tentang ketidakmampuan "menciptakan seekor lalat" merupakan logical fallacy jenis strawman karena banyak tradisi religius tidak mengklaim dewa/objek sembahan mereka sebagai pencipta fisik. Perbandingan "sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah" menunjukkan retorika dehumanisasi terhadap penganut keyakinan berbeda. Ini menciptakan dasar psikologis bagi intoleransi dan superioritas.
Logical Fallacy
Argumentum ad ridiculum (Seruan kepada ejekan) - Ayat 73 menggunakan ejekan terhadap kelemahan berhala (tidak dapat menciptakan lalat) sebagai pengganti argumen substantif tentang eksistensi atau sifat Tuhan. False equivalence (Kesetaraan palsu) - Ayat 73 akhir "sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah" menyamakan kerumitan psikologis manusia dengan objek mati, yang merupakan perbandingan tidak setara.