Al-Mu'minun (Orang-Orang Mukmin) Ayat 27

Topik

Wahyu untuk membuat bahtera (Ayat 27)

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ ۙ فَاسْلُكْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ ۖ وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۖ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

Lalu Kami wahyukan kepadanya, "Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksaan) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Kritik

(23:27) Perintah untuk "janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim" bertentangan dengan nilai-nilai belas kasihan dan pengampunan. Larangan untuk memohonkan ampun bagi "orang zalim" menunjukkan konsep keadilan yang rigid dan tidak memungkinkan rehabilitasi. (23:27-30) Kisah penenggelaman seluruh kaum kecuali pengikut Nuh menunjukkan hukuman massal yang tidak proporsional. Secara etis problematik karena menghukum seluruh populasi termasuk anak-anak dan bayi yang belum memiliki kapasitas moral.