Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-96 setelah Muhammad sebelum Ar-Rahman.
Ar-Ra'd: Surat ini memuat banyak klaim ilmiah yang bermasalah. Kalau dilihat secara kritis, ada beberapa masalah besar:
Gunung sebagai "pasak" bumi:
Surat ini menyatakan gunung adalah pasak yang mencegah bumi berguncang. Tapi menurut geologi, gunung justru terbentuk karena pergerakan lempeng tektonik yang menyebabkan gempa. Gunung adalah hasil guncangan, bukan pencegahnya.
Allah sengaja sesatkan orang lalu hukum mereka:
Ada ayat yang menyatakan Allah yang memberi petunjuk sekaligus menyesatkan sesuai kehendak-Nya — tapi orang yang disesatkan tetap dihukum. Ini tidak adil, seperti guru yang sengaja mengajarkan jawaban yang salah lalu marah ketika muridnya keliru.
Petir sebagai senjata Allah:
Petir digambarkan sebagai senjata untuk menyerang musuh, padahal petir adalah fenomena alam biasa dari listrik statis di awan. Tidak ada hubungannya dengan hukuman supernatural.
Sistem pengawasan malaikat yang bikin paranoid:
Ada malaikat yang selalu mengikuti dan mencatat semua tindakan manusia. Ini seperti negara polisi yang memantau seluruh aktivitas warganya — tidak ada privasi, tidak ada kebebasan personal.
Mukjizat yang selalu punya alasan untuk tidak muncul:
Setiap kali orang meminta bukti, selalu ada alasan mengapa tidak diberikan. Kalau tidak ada bukti yang bisa diverifikasi, dasar apa yang tersisa untuk meyakini klaim ini berasal dari Tuhan?
Klaim semua agama aslinya Islam:
Dikatakan semua nabi sebelumnya membawa Islam, tapi tidak ada bukti sejarah untuk ini. Agama-agama lain punya asal-usul dan perkembangan sendiri yang independen.
Menyalahkan yang tidak percaya:
Orang yang tidak percaya selalu dilabeli sombong atau bodoh, padahal bisa jadi mereka hanya membutuhkan bukti yang lebih jelas dan masuk akal.
Al-Quran disebut jelas, tapi butuh tafsir rumit:
Di satu sisi Al-Quran diklaim jelas dan mudah dipahami, tapi di sisi lain butuh ilmu tafsir yang kompleks untuk mengerti artinya. Ini kontradiksi — mana yang sebenarnya berlaku?
Kesimpulan:
Ar-Ra'd bukan wahyu tentang keadilan dan kebijaksanaan — ini kumpulan kesalahpahaman ilmiah dan kekeliruan logika yang mencerminkan keterbatasan pemahaman manusia abad ke-7 tentang alam dan keadilan. Kalau benar-benar berasal dari Tuhan yang Maha Tahu, tidak seharusnya ada kesalahan ilmiah dan sistem yang tidak adil di dalamnya.
1-4 : Tanda-tanda Ilahi dalam Penciptaan (Ayat 1-4)
Turunnya ayat ini dilatarbelakangi penolakan seorang musyrik terhadap dakwah Islam yang disampaikan kepadanya. Berkali-kali dakwah itu datang kepadanya, namun sebanyak itu pula ia menolak hingga pada akhirnya datanglah halilintar yang menyambar dan membakarnya.
(Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Dan mereka meminta kepadamu agar dipercepat (datangnya) siksaan, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksaan sebelum mereka. Sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sungguh, Tuhanmu sangat keras siksaan-Nya.
Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengannya; dan siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari.
Ayat ini turun mengenai Amir bin Ath-Thufail dan Arbad bin Rabi'ah yang berencana membunuh Nabi Muhammad SAW secara licik. Allah menggagalkan rencana mereka dengan membuat pedang Arbad macet, lalu mengirimkan petir yang menyambar dan membakar Arbad hingga tewas.
dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan,419) dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
Catatan Depag
*419) Mengadakan hubungan silaturahmi dan tali persaudaraan.
Ayat ini turun pada saat Perjanjian Hudaibiyah. Ketika Nabi meminta Ali menulis "Bismillahir-Rahmanir-Rahim", perwakilan musyrik menolak kata "Ar-Rahman" karena mereka mengaku tidak mengenalnya selain mengira itu merujuk pada penguasa Yamamah (Musaylimah Al-Kazzab).
Ayat ini turun ketika kaum Quraisy menantang Nabi Muhammad SAW untuk memindahkan gunung-gunung di Makkah, memunculkan sungai-sungai, menghidupkan leluhur mereka yang sudah mati, atau mengubah batu menjadi emas. Allah memberi Nabi pilihan untuk mengabulkannya (dengan ancaman mereka akan diazab total jika tetap ingkar) atau membuka pintu rahmat agar keturunan mereka beriman kelak, dan Nabi memilih pintu rahmat.
Ayat ini turun untuk membantah ejekan kaum Yahudi yang mengkritik Nabi Muhammad SAW karena beliau memiliki banyak istri. Mereka menuduh bahwa jika beliau benar-benar nabi, beliau tidak akan memikirkan urusan wanita dan pernikahan.